![]() |
![]() |
Politeknik Pertanian Negeri Kupang bersama PT Charoen Pokphand Indonesia (CP) memperkuat pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa melalui pengembangan budidaya ayam petelur di lingkungan kampus. Kolaborasi ini menghadirkan fasilitas pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola ayam petelur sekaligus mengenal penerapan teknologi dan manajemen peternakan sesuai praktik di dunia industri.
Melalui fasilitas tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga terlibat dalam berbagai tahapan pengelolaan ayam petelur, mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan dan air minum, pengendalian kesehatan dan biosekuriti, pencatatan performa, hingga pengelolaan produksi telur.
Penanggung jawab kerja sama Politani Kupang dengan PT Charoen Pokphand Indonesia, Dr. Arnold Christian Tabun, S.Pt., M.Sc., saat ditemui di kandang ayam petelur Politani Kupang, Senin (21/9/2026), menjelaskan bahwa pengembangan unit ayam petelur di Kampus Politani Kupang diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran berbasis praktik sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan teknologi dan manajemen peternakan modern sesuai kebutuhan industri.
Dalam pengembangan tersebut, Politani Kupang memperoleh pendampingan dari PT Charoen Pokphand Indonesia melalui dukungan dan transfer pengetahuan di bidang perunggasan. Pendampingan diarahkan pada peningkatan kompetensi dalam manajemen pemeliharaan ayam petelur, manajemen pakan, kesehatan dan biosekuriti, serta pengelolaan produksi. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri seperti ini sejalan dengan kegiatan Charoen Pokphand dalam menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan untuk mendukung pengembangan pendidikan dan sumber daya manusia dibidang peternakan
“Fasilitas dan sarana yang disiapkan ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa untuk belajar memelihara ayam petelur di kandang Politani, sehingga mereka dapat membandingkan antara teori yang diperoleh dengan pengalaman praktis di lapangan,” jelas Arnold.
Dari Teori Menuju Praktik “Belajar, Menerapkan, dan Berkembang”
Belajar, Menerapkan, dan Berkembang merupakan proses pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan teoritis dengan pengalaman nyata di lapangan. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan tersebut melalui kegiatan praktikum, pengamatan, dan pengelolaan ternak secara langsung. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan membantu mahasiswa memahami hubungan antara teori dan kondisi nyata di dunia peternakan.
Melalui pengalaman praktik, mahasiswa dapat belajar, menerapkan, mengevaluasi, dan mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh. Setiap kegiatan praktik menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan teknis, ketelitian, tanggung jawab, kerja sama, serta kemampuan memecahkan masalah. Proses ini diharapkan mampu membentuk lulusan yang memiliki kompetensi, pengalaman, dan kesiapan untuk berkontribusi dalam pengembangan sektor peternakan serta menghadapi kebutuhan dunia kerja.
Menurut Arnold, pengalaman praktik tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan vokasi yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja. “Ketika mahasiswa memiliki keterampilan dan pengalaman praktis di lapangan, kemudian pengalaman dan keterampilan itu nantinya dapat digunakan ketika mereka bekerja di industri peternakan unggas,”.
Selain itu keberadaan sarana pembelajaran budidaya ayam petelur ini untuk memperkuat konsep Link and Match antara perguruan tinggi vokasi dan dunia usaha serta dunia industri (DUDI). Bagi pihak industri, keberadaan fasilitas pembelajaran tersebut juga dapat menjadi salah satu ruang untuk menyiapkan calon tenaga kerja yang memiliki pengalaman teknis dalam pengelolaan ayam petelur.
2.520 Ayam Jadi Laboratorium Lapangan
Saat ini, kandang ayam petelur Politani Kupang terdapat 2.520 ekor ayam petelur dengan strain Hy-Line Brown Max Pro (CP 909) yang disiapkan melalui kemitraan dengan PT Charoen Pokphand Indonesia. Ayam tersebut masih berada pada fase grower akhir atau sering juga disebut sebagai fase pre-layer (pra-produksi) (17 minggu) sehingga belum memasuki masa produksi telur. Produksi diperkirakan mulai berlangsung pada usia 18 hingga 19 minggu.
Arnold menekankan bahwa “ketepatan pemberian pakan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung produktivitas ayam. Dalam pemeliharaannya, kebutuhan pakan disesuaikan dengan umur ayam. Saat ini, ayam mendapatkan pakan 522 dengan jumlah sekitar 85 gram per ekor per hari. Selanjutnya, pemberian pakan akan disesuaikan dengan fase pertumbuhan dan kebutuhan nutrisi ayam sehingga dapat mendukung produktivitas,” ujarnya.
Pada fase berikutnya, ayam akan mendapatkan pakan 524 Alfa yang menurut penjelasan teknis dalam program kemitraan, mengandung probiotik untuk mendukung kesehatan pencernaan, membantu membuat kotoran lebih kering, mengurangi bau amonia di sekitar kandang, serta mendukung produksi dan kualitas cangkang telur.
Selama pelaksanaan pemeliharaan ayam petelur mendapat pendampingan tenaga teknis dari PT Charoen Pokphand Indonesia untuk memastikan proses pemeliharaan berjalan sesuai standar yang ditetapkan. PT Charoen Pokphand Indonesia berperan sebagai tenaga pendamping dalam pengembangan budidaya ayam petelur di Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Pendampingan mencakup aspek teknis budidaya, meliputi manajemen pemeliharaan, pemberian pakan dan air minum, pengelolaan kandang, kesehatan dan biosekuriti, pencatatan performa, serta manajemen produksi telur. Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman praktik secara langsung dengan menerapkan standar dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan usaha peternakan.
Kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan link and match antara pendidikan vokasi dan dunia industri. Kolaborasi Politani Kupang dengan PT Charoen Pokphand Indonesia memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal teknologi, budaya kerja, standar operasional, dan kompetensi yang dibutuhkan di industri perunggasan. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada pembentukan keterampilan praktis dan kesiapan mahasiswa untuk memasuki serta berkontribusi di dunia kerja.
Telur Ditargetkan Dipasarkan di Kota Kupang
Meskipun saat ini belum menghasilkan telur karena ayam masih dalam fase pertumbuhan, Politani Kupang telah menyiapkan rencana pemasaran hasil produksi setelah ayam memasuki masa produksi.
Telur yang dihasilkan nantinya akan dipasarkan di lingkungan kampus dan wilayah Kota Kupang. Selain memenuhi kebutuhan pasar, pengembangan unit budidaya ayam petelur ini diarahkan untuk menjadi salah satu sumber pendapatan bagi Politani Kupang.
Arnold berharap fasilitas tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan sehingga tidak hanya menjadi sarana pembelajaran mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi institusi.
“Harapan kami, sarana ini harus dipelihara dan dijaga dengan baik sebagai sumber belajar bagi mahasiswa dan masyarakat. Pada akhirnya, fasilitas ini, terutama ayam petelur, dapat menjadi sumber pendapatan bagi Politani untuk meningkatkan PNBP,” ungkapnya.
Ke depan, Politani Kupang juga merencanakan pengembangan kandang dan penambahan populasi ayam sehingga kapasitas pembelajaran maupun produksi dapat ditingkatkan.
Alumni Kembali Mengabdi di Almamater
Kemitraan ayam petelur Politani Kupang juga menghadirkan keterlibatan Aryo Duka, alumni Program Studi Kesehatan Hewan, Jurusan Peternakan Politani Kupang, yang kini menjadi pengelola kandang ayam petelur.
Aryo merupakan mahasiswa Politani Kupang tahun 2021 dan menyelesaikan studinya pada 2024. Setelah lulus, ia sempat bekerja di salah satu klinik di Jakarta Utara selama lebih dari satu tahun sebelum kembali ke Kupang.
Pengalamannya dalam bidang ayam petelur telah diperoleh sejak masa perkuliahan. Ia pernah mengikuti praktik kerja lapang di Jawa Timur selama sekitar satu bulan dengan fokus pada pengelolaan ayam petelur.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika mendapat kesempatan terlibat dalam pengelolaan kandang ayam petelur di almamaternya.
“Saya memilih menjadi pengelola di kandang ayam Politani karena saya punya pengalaman saat magang di ayam petelur. Yang kedua, saya lebih tertarik untuk kembali bekerja di almamater, Politeknik Pertanian Negeri Kupang,” ujar Aryo.
Kisah Aryo memperlihatkan bagaimana pengalaman pembelajaran berbasis praktik dapat menjadi bekal bagi lulusan untuk memasuki dunia kerja sekaligus membuka peluang untuk kembali berkontribusi di lingkungan almamater.











